“ Al hayau minal iman............... Malu adalah sebagian dari iman”, ungkapan itu seakan hanya sekadar ungkapan dalam buku-buku ataupun ucapan Sang Guru pada muridnya di dalam kelas. Namun implementasinya dalam kehidupan-sehari-hari justru jauh dari hakikat rasa malu. Semua yang dilakukan jauh dari tuntunan agama dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Perbuatan yang dilakukan semata menuruti tuntutan nafsu dzohiriyah dan pemuasan ego pribadi. Seakan mengesampingkan apa itu hablum mina lloh wa hablum minan nas yang tak pernah lepas dari praktek kehidupan kita.
Pengaruh globalisasi teknologi bagi gelombang tsunami yang siap menggulung nilai-nilai kesucian akhlaq sebagai fitrah manusia yang tertanam dalam setiap jiwa. Generasi muda yang rentang dengan gejolak ego yang labil sehingga sangat mudah terpengaruh oleh akulturasi budaya-budaya barat yang jauh nilai ketimuran. Nilai ketimuran yang kita kenal adalah sikap ramah tamah, menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan norma sosial. Jika kita mengamati kondisi pergaulan remaja saat ini maka akan kita jumpai banyak dari mereka tak memiliki rasa malu dan bersikap semaunya sendiri tanpa mempedulikan apakah sikapnya itu dibenci orang lain ataupun tidak.
Hal senada juga dilakukan kalangan pejabat publik yang duduk di eksekutif maupun legislatif di negeri ini. Sudah jelas-jelas melakukan korupsi tapi tak sedikitpun rasa malu tersirat dari raut wajahnya. Kesana kemari melakukan senyum tipis dibalik rasa tangis dan derita rakyat miskin jelata. Mentalitas para birokrat kita boleh dikatakan dalam istilah Jawa ‘rai gedhek’ sebuah sifat yang tak ada lagi rasa malu. Lemahnya supremasi hukum juga menjadi faktor utama hancurnya sistem pemerintahan dan hilangnya rasa keadilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar